Skip to main content

Life at the agency

Life at the agency

Tampil selalu dress-up, terlihat charming dan agile, kerap meeting dengan klien-klien bona fide, hingga kongkow-kongkow di tempat yang nge-hits selepas pulang kantor. Itulah sedikit banyak gambaran lifestyle dari orang-orang yang bekerja di sektor agency.  Selintas adalah pekerjaan yang menjadi salah satu impian bagi sejumlah orang; terlihat cool dan tentunya bergaji besar.

Weiitss…tunggu dulu! Apakah bekerja di agency itu semudah menebar senyum kepada rekanan atau membeli baju idaman saat ada sale besar-besaran?

Seperti saya yang sudah menyelami dunia Public Relations (PR) selama kurang lebih 10 tahun dapat merasakan bahwa  berkerja di perusahaan  agency baik Brand, Digital dan Public Relations jangan dilihat dari look luarnya saja.  Ya betul, para insan PR ini rata-rata terlihat menawan, gesit dan selalu menarik perhatian. Lawan bicara mereka juga kebanyakan bukan orang sembarangan. Mulai dari pejabat pemerintah hingga bos-bos ataupun CEO perusahaan besar baik dari dalam maupun luar negeri. Namun dibalik semua itu ternyata ada sederet syarat yang harus dikuasai para PR agar bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal.

Tentu sebagai seorang PR syarat mutlaknya adalah harus pandai berkomunikasi. Jika kamu adalah seorang pemalu atau bahkan introvert, saya harap sih untuk berpikir ulang mengambil pekerjaan tersebut. Mengapa? Karena kita harus bisa luwes untuk memberikan informasi yang diinginkan dalam hal ini klien kepada media dan masyarakat agar terjalin sinergi hubungan yang baik dan tercipta rasa percaya.  Meskipun seorang pemalu bahkan introvert pun bisa masuk di dunia ini tetapi butuh waktu yang lebih lama pastinya. Selanjutnya kita pun harus aktif dalam mencari informasi agar bisa mengelola opini yang baik oleh publik. Sebab hal ini sangatlah berpengaruh pada citra perusahan/ departemen klien kita. Maka selain harus mampu menjadi pemberi informasi dan mengelola opini yang baik dari masyarakat, seorang PR juga harus bisa mendengar, melihat dan merasakan apa yang terjadi pada saat ini alias up to date dengan perkembangan terbaru.

Gaptek?  Atau malas mengikuti perkembangan teknologi?  Jauh-jauh deh dengan sikap seperti itu jika ingin menjadi PR yang handal.  Karena bisa jadi calon klien akan mengurungkan niatnya untuk bekerja sama ketika kamu terlihat gaptek atau gagap teknologi. Ingat lah, pada jaman sekarang sepertinya  kehidupan sudah ‘mewajibkan’ menggunakan gadget dan internet. Platform digital yakni website serta social media seperti blog, vlog dan lain sebagainya pun telah menjadi lahan baru untuk menyampakan pesan para klien. Sejumlah pakar PR juga telah meramalkan bahwa beberapa tahun mendatang Digital Story Telling, Social Media dan Social Listening akan jadi trend PR. So, sebagai PR kita sudah selayaknya  mampu beradaptasi dan mengaplikasikan budaya berbasis digital yang semakin pesat.

Kecerdasan berpikir dan kemampuan untuk memberikan ide-ide segar atau dapat menghadirkan kreativitas baru dalam menciptakan startegi PR bagi klien juga menjadi syarat yang tidak bisa dikesampingkan. Dengan semakin maraknya persaingan PR agency di Indonesia saat ini, kita dituntut untuk dapat menghadirkan strategi-strategi yang tidak biasa dan mumpuni agar mendapat perhatian dari klien terutama saat pitching. Ide-ide menarik nan segar serta sederet kreativitas baru namun tentunya tetap realistis dalam membuat strategi PR inilah yang akan dilirik klien dan selanjutnya bersedia untuk mendatangani  MoU dengan  kita.

Namun perlu diingat bahwa dalam merangkum strategi-strategi yang akan dipresentasikan ke klien, kita seyogianya tidak boleh egois dalam memutuskan ide mana yang akan dipakai. Secemerlang apapun ide kita atau begitu jeniusnya ide kita dan diyakini akan diterima klien, kita harus tetap menghargai ide-ide orang lain. Sebab, balik lagi yang akan memberi keputusan adalah klien dan tentunya mereka akan melihatnya dari berbagai sudut. Salah satunya yakni budget dan sisi realistisnya. Bisa jadi ide kita merupakan sebuah terobosan baru namun jika dilihat dari angka dan realistisnya sulit diwujudkan, maka klien tidak menutup kemungkinan akan memilih ide dari teman kita yang dipandangnya lebih realistis.

Kemudian yang perlu kita perhatikan juga adalah dunia PR sangat lah dinamis. Sehingga kemauan untuk belajar dan terus belajar harus ditanamkan. Latar belakang sosial dan pendidikan memang cukup berpengaruh, terutama bagi yang sebelumnya pernah mengeyam pendidikan PR dan strata lainnya yang masih berkaitan. Kendati demikian tidak perlu berkecil hati bagi yang berangkat dari basic-nya berbeda. Karena ternyata banyak PR handal juga yang sebelumnya adalah bertitel Sarjana Ekonomi, Sarjana Hukum, mantan wartawan, pegawai Event Organizer, Marketing dan lain sebagainya. Saya sendiri bukan dari lulusan sarjana PR namun dengan kemauan keras untuk terus dan terus belajar hingga detik ini baik dari pimpinan, rekan satu team, klien dan ditempa keras oleh pelajaran hidup berupa pengalaman, saya merasa mampu mengembangkan diri menjadi seorang PR.

Latar belakang sosial dan pendidikan serta kebutuhan ekomoni lawan bicara kita juga sangat beragam dan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. klien, media dan masyarakat mempunyai pemikiran dan harapan yang bisa jadi tidak sama. Dimana dari perbedaan ini akan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda sehingga sebagai PR kita harus bisa menyeragamkan informasi untuk publik. Disini lah kita harus pandai-pandai mencari informasi agar tujuan kita bisa tercapai.

“Attitude is a little thing that makes a big difference.” Dari kesemuanya itu, saya menilai bahwa perilaku diri merupakan bagian krusial dari kunci sukses seorang PR. Mengambil profesi sebagai humas atau hubungan masyarakat yang akan dinilai pertama kali oleh pihak luar adalah perilaku diri yang baik. Kesan ramah, manarik, sabar, good listener dan berlaku baik kepada orang lain termasuk selalu on time saat bertemu klien dapat menjadi sebuah pembuka  gerbang rejeki atau ‘pengubah nasib’.  Karena bisa saja dari hal-hal receh inilah calon klein atau media akan memberikan attention yang besar kepada kita ketimbang berlaku ‘peres’ atau berusaha mengambil hati dengan cara memuji-muji  lawan bicara terlalu tinggi hingga terkesan menjilat. Tidak menutup kemungkinan CEO atau pemangku keputusan yang kita hadapi akan merasa janggal, mungkin malah jengah apabila kita memujinya terlalu tinggi. Bagi saya memuji boleh-boleh saja, sekedar sebagai salam pembuka atau breaking ice sebelum kita memberikan penawaran melalui presentasi.

Setinggi atau begitu fahamnya akan situasi yang sedang dihadapi oleh Klien, kita sebaiknya menjadi good listener terlebih dahulu. Memotong di tengah-tengah pembicaraan dapat merusak etika. Setahu apapun kita dan sudah mengerti solusinya bagaimana, biarlah Klien menyudahi pembicaraannya. Kadang disini kita diuji kesabarannya dan karena merasa sudah faham lalu memotong pembicaraan dengan mencoba memberikan solusi saya rasa kurang tepat. Respect, buat mereka itu penting.  Kecuali klein dan kita sudah saling mengenal dan tarafnya sudah sangat akrab. Itu lain soal.  Namum kembali lagi sedekat apapun kita dengan klien, ada semacam batas yang tidak boleh dilanggar yaitu respect.

Bagian dari attitude yang lain adalah berupa norma kejujuran, keahlian, kemandirian, kesetiaan, dan keadilan harus ada pada para praktisi PR. Saya menilai dengan perilaku diri yang sudah dijabarkan di atas tadi, kesan yang akan muncul adalah sikap profesionalisme seorang PR yang diharapkan Klien atau pemangku keputusan untuk bisa membantunya dalam menyampaikan pesan-pesan kepada publik.

Sebagai seorang PR yang sering berhubungan dengan media, menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan media atau Media Relations amatlah penting. Sebab media adalah sarana publikasi, dimana segala informasi klien disalurkan selain itu media juga merupakan sarana untuk membangun reputasi. Media merupakan acuan publik untuk berfikir dan bertindak, publik seolah digiring oleh media untuk berperilaku sesuai dengan isu yang ada. Opini pubik baik ataupun buruk terhadap reputasi klien sangat tergantung oleh penggiringan/penulisan media. Melalui tulisan yang baik oleh media, reputasi perusahaan terbangun. Support dan jaringan bagi perusahaan/departemen klien juga terbangun. Ketika hubungan media terjalin dengan baik, maka kepercayaan masyarakat terhadap klien juga pastinya akan semakin kuat sebab pesan yang disampaikan oleh media diterima oleh masyarakat  dengan baik pula.

Selama ini saya mempelajari bahwa hubungan media sebaiknya tidak hanya dengan langkah professional seperti  membagikan press release, menggelar suatu kegiatan media gathering atau press conference  hingga media trip, tapi juga juga bisa secara personal.  Menjadi ‘teman media’ adalah semacam privilege buat saya. Jika waktu senggang saya sering berkumpul dengan beberapa rekan media sekedar untuk melepas lelah, mencicipi kuliner atau nonton film.  Salah satu tujuannya adalah untuk menghilangkan stigma “jika dibutuhkan baru diundang”.  Selain itu berteman secara personal dengan mereka ternyata banyak hal yang bisa saya pelajari terutama tentang pengalaman hidup. Dari berbagai ragam latar belakang, rekan-rekan media sering menceritakan pengalaman hidupnya dan ini merupakan poin tambahan pelajaran hidup buat saya. Dengan keakraban yang terbina tak segan pula saya bisa mendapatkan insight ataupun masukan-masukan penting dari mereka untuk bisa menselaraskan pesan-pesan klien yang akan di publish di Media.

Client services yang saya lakukan adalah PR consultant yakni membantu perusahaan untuk mengkomunikasikan brand si perusahaan kepada publik secara lebih umum. PR consultant lebih memikirkan bagaimana startegi yang baik untuk berkomunikasi, kemudian bagaimana langkah-langkah yang harus dibuat. Konsultan PR pun bertugas mengarahkan strateginya secara lebih detail, kemudian dibuatkan yang lebih baik untuk mengkomunikasikan pesan kepada khalayak. Strategi yang dibuat oleh konsultan PR misalnya membuat brand awareness perusahaan yang diwakilinya dan tidak lupa dikaitkan dengan marketing si perusahaan untuk membangun opini publik serta menaikkan citra perusahaan tersebut. Kemudian Communication Consultant adalah memberikan layanan seperti corpoorate communication, misalnya untuk startegi komunikasinya seperti apa, bahkan juga menangani masalah isu dan krisis.

Satu lagi yang pastinya mendukung suksesnya satu event klien di sebuah PR agency adalah Team Work.  Team work ini sangat diperhitungkan sekali, apabila kalian mempunyai team work yang saling mendukung satu dengan yang lainnya sehingga setiap satu event besar klien berjalan dengan baik dan memenuhi KPI pastinya sebuah pencapaian yang membanggakan PR agency tersebut.

So, kamu berminat menjadi seorang PR baik di PR corporate atau agency? Let’s join the club

Note:

Over all menurut saya tulisan ini sudah oke. sebuah blog  tentang pengalamannya secara personal di dunia agency. Tips-tips yang di-share menurut saya bisa menjadi masukan dan tentunya menambah pengetahuan bagi pembaca. Banyak hal yang diutarakannya mengenai  tantangan dan solusi yang bisa menjadi pencerahan bagi yang lain. Cara membahasanya juga saya rasa tidak menggurui dan terlihat lebih kepada sharing semata.

Gaya menulisnya juga terasa santai.  Kalimatnya tidak terlalu panjang-panjang dan ada sisipan atau idiom-idiom  seperti ‘weits …. Tunggu dulu’ dan lainnya  yang membuat tulisan ini terasa penulisnya sedang berbicara dengan kita dengan bahasa yang relax, tidak formal dan seperti ngobrol dengan sahabat.

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?