Skip to main content

Ketika Kita Tak Bisa Pilih-Pilih Klien

Seni dan Chemistry; Jurus yang Dapat Dikuasai PR Pro Dalam Membina Hubungan dengan Klien

Ketika Kita Tak Bisa Pilih-Pilih Klien

It’s way harder to build relationship with your client than your lover. Ada suatu waktu di mana saya menggumamkan hal tersebut dan pada saat yang bersamaan ponsel saya dipenuhi notifikasi whatss app dari klien yang terbilang ‘unik’.

Ingin rasanya mengabaikan ponsel tersebut namun demi menjaga reputasi diri maupun firma, mau tak mau saya tanggapi klien tersebut seadanya. Tanpa saya sadari bahwa kesulitan dalam memahami atau membina hubungan dengan klien secara langsung/tidak langsung disebabkan oleh diri saya sendiri.

Ada suatu ekspektasi di mana saya ingin klien saya senang dan langsung memahami apa yang saya kerjakan, padahal klien kita bisa memiliki latar belakang berbeda-beda. Mungkin kalau pasangan hidup kita bisa bebas memilih, tapi kalau klien seringkali kita belum tahu siapa yang akan kita hadapi. Karena pilihan itu pasti akan didasarkan pada industri dan perusahaannya, apalagi jika tergolong multinational company berbudget besar. You’ll be deemed to serve extra.

Well, walaupun pada kenyataannya memang seringkali kita melayani dengan sepenuh hati setelah melihat nominal pekerjaan yang besar. Namun idealnya dan selayaknya kita bekerja secara optimal dengan siapa pun dan dari perusahaan mana pun. Ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi setiap konsultan PR untuk dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan siapa pun kliennya.

Dibutuhkan keahlian yang menjurus kepada seni serta cara dalam membangun chemistry. Dilihat dari arti katanya, seni :

( 1 ) keahlian membuat karya yang bermutu;

( 2 ) kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa);orang yang berkesanggupan luar biasa.

That means we need to master interpersonal/communication skill with good eyes to observe and a sincere heart to empathy. Bukanlah hal yang mudah apalagi untuk para PR baru dengan pengalaman yang minim. Latihan demi latihan perlu didalami untuk dapat menguasai hal tersebut. Contoh mudahnya, mungkin para senior dapat sesekali melatih anggota baru untuk mengasah attitude maupun communication skill mereka dengan beberapa email yang kurang dapat mereka cerna. Tes saja kemampuan mereka dalam menghadapi hal tersebut. Biasanya sih ada beberapa kemungkinan 1. Dijawab seadanya yang membuat komunikasi semakin absurd, 2. Membutuhkan waktu lama bahkan mungkin satu jam untuk membalas email tersebut, 3. No responses at all.

The truth is, no matter what your response is, your client will still get to chase you on the subject. Jadi apa pun itu yang dirasa kurang jelas, lengkap, atau tepat, selalu biasakan bertanya atau memastikan asumsi kita akan suatu hal. Dan selalu merespon dengan cepat dan akurat sesuai kondisi saat itu karena buat mereka ‘time is money’ 😊 well we do so..

Hati-hati dalam memilih kata, struktur bahasa, dan intonasi (jika bertemu langsung). Kehati-hatian tersebut tentunya merupakan salah satu seni tingkat tinggi karena sebagian besar orang terkadang masih dikuasai oleh spontanitas emosional untuk berkomunikasi secara terburu-buru dan tenggelam dalam pekerjaan/rutinitas mereka. Contoh,

Client : please share your press release tomorrow

Me : oke

Tomorrow 10 AM

Client : hey, I don’t see your email. Where’s the release?

Me : please be patient, I’m working on it

Client : oke, I expect it on my email within 1 hour

Behind my desk : a sound of anger………

Yah, bukan sekali dua kali kadang komunikasi dilakukan tanpa kejelasan. Apalagi soal deadline. Jadi sangat penting untuk berkomunikasi secara jelas, terarah, serta mampu memberikan nilai lebih untuk memudahkan pekerjaan kita serta tentunya sang klien…

Client : please share your press release tomorrow

Me : oke, I’ll email you tomorrow at 1 PM the latest ya, is it okay?

Client : yap, sounds good, thanks

Both are happy 😊

Tentunya komunikasi seperti ini juga memerlukan proses yang akhirnya terjadi kecocokan dengan chemistry yang kuat. Chemistry sendiri itu bagaimana? Kalau dibahasa Indonesiakan artinya proses kimiawi. Mungkin bisa dipahami sebagai suatu unsur yang dapat dirasakan namun tak dapat dilihat dan diukur. That explains about TSAHIJDL syndrome – “There’s something about her I just don’t like.” Opini seperti itu yang cenderung terjadi di pertemuan pertama atau kedua yang tak jarang dirasakan oleh klien hingga akhirnya berdampak kurang baik terhadap kinerja tim secara keseluruhan.

So, what I have supposed to do? Tentunya untuk dapat memposisikan diri sebagai konsultan yang favorable, di awal pertemuan presentasi diri yang baik sangatlah penting. Mulai dari penampilan, gesture, hingga attitude haruslah sangat dijaga agar mampu memberikan energi yang positif, tidak terlalu mencolok atau malah sebaliknya invisible. Selanjutnya bagaimana? Pelajari bahasa klien. Mempelajari industri dan pekerjaan mereka sehingga konsultan dapat menjadi reliable partner not just vendor. Di saat konsultan dapat membawa diri dengan baik dan membuka komunikasi dua arah yang simultan, maka jangan khawatir/ragu untuk selalu berdiskusi dengan klien sebagai partner kita. Dan perlu diingat bahwa terkadang klien tidak selalu membutuhkan jawaban/solusi dari kita, just a little encouragement to calm them will do much.

So, keep your client happy. Because Jenifer Palmieri from Clinton’s office once said ‘getting the job will be harder than doing the job’ …Ingat betapa besarnya tekanan di kala pitching

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?