Skip to main content

Bertahan di Tengah Krisis Global

Bertahan di Tengah Krisis Global

Bagaimana Sebuah Perusahaan Dapat Berempati dan Beradaptasi dengan Baik

Sebagai pakar komunikasi atau pelaku industri, apa yang akan Anda lakukan di tengah krisis nasional bahkan global? Mungkin sebagian dari kita akan bersikap lebih pasif dari biasanya dan menunggu situasi krisis tersebut berlalu, karena hal tersebut di luar kendali kita.

Namun ada sebagian orang yang mampu menganalisa situasi dengan baik, beradaptasi dengan cepat, bahkan mampu menciptakan kesempatan dari situasi krisis. Karena pada dasarnya krisis itu sendiri merupakan sebuah titik balik bagi siapa pun yang terkena dampaknya baik langsung maupun tidak langsung.

Titik balik tersebut bisa mengarah kepada sebuah kemajuan atau bahkan kemunduran, kita yang menentukan.

Situasi krisis nasional bahkan global yang diakui merupakan periode terburuk bagi setiap sektor atau industri dan menjadi momok bagi masyarakat yaitu pandemi global Covid-19. Situasi yang terjadi berbeda dengan krisis ekonomi atau krisis bencana alam yang mungkin hanya berdampak pada wilayah tertentu. Krisis Covid-19 jauh lebih kompleks dengan dampak sistemik dan menyentuh aspek-aspek kehidupan setiap manusia.

“Covid-19 will reshape our world. We don’t yet know when the crisis will end. But we can be sure that by the time it does, our world will look very different,” Josep Borrell, Perwakilan Tinggi Uni Eropa.

Beberapa pakar melihat krisis ini seperti berada di medan perang, di mana masyarakat global sedang menghadapi hybrid threats. Sebuah konsep militer yang digunakan ketika perubahan terjadi dengan sangat cepat, sulit dipahami dan menggerakkan segenap sumber daya yang ada. Bisa dikatakan pemerintah dan setiap institusi yang terlibat memerlukan strategi dan taktik khusus untuk menghadapi krisis tersebut. Setiap kontribusi dalam bentuk apa pun merupakan hal yang ditunggu oleh masyarakat karena mereka terlibat dan terkena dampak dari situasi krisis ini.

Dari segi bisnis, tidak sedikit perusahaan kecil dan menengah yang kesulitan bertahan bahkan tutup usaha. Namun ada beberapa pula yang mengganti model bisnis mereka sesuai dengan kebutuhan dan pola perilaku masyarakat di tengah situasi krisis. Lalu bagaimana dengan perusahaan-perusahaan besar yang mampu melakukan lebih, bahkan tetap berkomunikasi dengan konsumen mereka? Perusahaan besar tergolong pihak yang diharapkan dapat berperan untuk bisa membantu komunitas atau audiens mereka di tengah situasi sulit.

Jonathan Heit, praktisi PR dari Allison+Partners, Inggris, berbicara bahwa setiap perusahaan dapat berkontribusi terhadap masyarakat/komunitas mereka di tengah keadaan sulit. Kondisi tersebut adalah saat di mana perusahaan mampu membuktikan bahwa mereka menghargai dan mencintai stakeholders mereka. Bahwa perusahaan terutama sebuah brand dibangun karena peran setiap stakeholders terkait. Saat krisis Covid-19 melanda, jangan sampai masyarakat/komunitas mereka bertanya, ke mana saja Anda di saat kita dalam keadaan sulit dan tertekan.

Kita bisa melihat sebuah langkah Ford dalam merespons situasi krisis Covid-19 bahkan membantu konsumen mereka. Ford justru tidak mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong menuju showroom mobil karena seri terbaru atau bahkan promosi harga khusus. Mereka justru hadir dengan komunikasi baru, yang memperlihatkan peran Ford di tengah situasi krisis mulai dari perang, bencana alam, hingga kini saat Covid-19. Mereka memberikan keringanan kredit bagi konsumen Ford yang terdampak virus Corona.

Atau mungkin di Jakarta sendiri bisa dilihat di beberapa out-of-home media, terdapat iklan himbauan masyarakat dari Danone yang terlihat sangat berempati dengan kondisi masyarakat di tengah situasi krisis.

Lalu bagaimana perusahaan lain terutama perusahaan dengan kapital besar mampu mengubah strategi komunikasi mereka bahkan lini produksi mereka untuk kepentingan publik? Sebagai praktisi PR, kita dapat melihat situasi krisis ini sebagai sebuah kesempatan untuk berinteraksi secara lebih intens dan berkontribusi secara nyata terhadap stakeholders perusahaan. Sehingga yang pertama dilakukan adalah dengan bersikap dan merespons kondisi krisis sesuai kapasitas perusahaan/brand dan kebutuhan audiens. Ini membutuhkan strategi bisnis dan komunikasi secara menyeluruh berdasarkan berbagai data serta informasi penting disertai kontribusi dari segenap karyawan perusahaan.

Mengutip QC Liang, praktisi PR dari H+K Strategies, Greater China, bahwa di saat situasi krisis seperti ini agency PR menjadi lebih berperan karena mereka mengerti bagaimana berbicara dengan setiap stakeholders perusahaan, menganalisa situasi dengan baik, memperhitungkan resiko yang ada, dan memberikan input terhadap pesan apa yang dapat disampaikan perusahaan/brand dan bagaimana cara menyampaikannya dengan baik. Karena walaupun strategi komunikasi seperti ini dapat dimulai dari para marketeers, namun ini bukanlah sebuah aktivasi kampanye atau produk yang biasa dilakukan dengan baik oleh agency kreatif lain.

Mungkin sebuah brand dapat merespons situasi krisis ini dengan baik pada satu kesempatan, namun timbul pertanyaan lebih lanjut. Apakah brand tersebut betul-betul tulus berkontribusi terhadap masyarakat atau hanya sekedar ajang promosi? Lalu selanjutnya setelah situasi krisis berakhir, apakah mereka akan tetap memperhatikan kepentingan publik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab jika perusahaan/brand mampu memposisikan bisnis mereka sesuai dengan tujuan yang baik bagi kepentingan publik dalam jangka panjang. Ini yang menjadi alasan banyak perusahaan berskala global mulai membangun sustainability program mereka. Sehingga apa pun strategi komunikasi dan marketing yang dirancang akan tetap berjalan sesuai tujuan besar perusahaan apalagi jika terjadi situasi krisis mereka akan mampu menjawab tantangan yang ada. Sustainaibility program dapat dibaca pada artikel selanjutnya!

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?